Kak, Nanti Kita Keliling Kota ya?




Aku adalah Rangga, anak pertama yang lahir dari orang tua yang baik. Aku memiliki seorang adik perempuan yang manis. Senyumnya manis dan anak yang periang. Andini namanya. Mungkin karena terlalu panjang, keluarga kami dengan akrab memanggilnya Dini. Kami berasal dari keluarga yang bisa dikatakan menengah ke atas. 

Ibuku merupakan salah satu pemilik toko butik di daerah Semarang. Sedangkan, ayahku menjabat sebagai CEO suatu perusahaan swasta di Jakarta. Ya, begitulah keadaannya.

Aku dan Dini dikenal sebagai anak yang ceria serta menggemaskan. Dari kekayaan harta yang dimiliki keluarga kami, aku dan Dini hidup dengan bahagia serta dikelilingi sejumlah harta yang luar biasa banyak. Aku harap semua harta itu bisa menjamin keharmonisan keluarga kami. 

Meskipun lahir dari keluarga kaya, aku dan Dini cukup kurang untuk menerima kasih sayang orang tua langsung, sebab mereka hanya terus bekerja. Kami diasuh oleh pembantu di rumah.

Karena lokasi Ayah bekerja sangat jauh dari tempat tinggal kami, Ayah jarang pulang. Sedangkan, Ibu pulang saat sudah tengah malam. Saat kami sudah tertidur dan membangun mimpi. Hingga pada suatu hari, Ibu tiba-tiba menelpon Ayah sambil melontarkan kalimat yang kurasa tak pantas didengar oleh kami berdua.

"Ayah! cepatlah pulang! Aku enggan menunggumu lebih lama di sini. Anakmu memerlukan kasih sayang kita."

"Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba marah seperti itu?" ucap Ayah di telepon.

Kemudian, Ibu menutup teleponnya sembari membanting teleponnya dengan keras. Hal itu membuat kami sedikit takut.

Dua hari kemudian, Ayah pulang. Pulang dengan raut wajah yang terlihat seperti orang kelelahan.

"Baru pulang? Berapa lama kau berselingkuh dengan wanita lain di kantor?" cecar Ibu.

"Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura bodoh! Siapa wanita ini?!" sambil menunjukkan sebuah foto wanita.

"Itu hanya sekretaris kantor, Sayang."

"Aku tak peduli! Aku sudah muak dengan akting j*lekmu itu. Aku ingin kita bercerai."

Mendengar hal itu, Ayah kaget dan langsung meng-iyakan keputusan egois Ibu itu. Itu semua merupakan bencana keluarga kami yang sangat tiba-tiba. Aku berusaha menutup telinga Dini agar ia tak bersedih mengenai hal itu.

Seminggu kemudian, Ayah dan Ibu resmi berpisah. Kami diasuh oleh kakek dan nenek di desa. Aku merasa sangat sedih. Mengalami bencana seperti itu saat seusia kami tidaklah mudah. 

Namun, kakek dan nenek terus menjaga kami sembari membentuk mental kami agar tak terus bersedih mengenai hal itu. Setiap pagi selalu mendapat kecupan dari nenek. 

Ketika memasuki jam makan siang, kami selalu diajak kakek ke kebun untuk membantunya mengambil sayur. Saat sore tiba, kakek selalu saja mengajak kami untuk mandi di sungai belakang. Mandi sambil mencuci baju milik kami sendiri. Kami merasakan hal yang indah bersama kakek dan nenek setiap hari. Sambil terus berharap bahwa kebahagiaan ini terus berlanjut.

Pagi itu, entah apa yang terjadi. Kakek dan nenek mengemaskan barang milik kami ke dalam tas. Mereka sudah tidak memiliki kemampuan untuk menjaga kami. Selain mereka yang terus menua dimakan waktu, alasan lain mereka memindahkan kami karena mereka sudah tak cukup dana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dikarenakan kebun milik kakek baru saja dirusak oleh oknum tak bertanggung jawab. Akhirnya kami di pindahkan ke Panti Asuhan terdekat. Andini menangis sendu, sebab ia kehilangan orang tersayangnya untuk kesekian kalinya. Tak ada perpisahan yang paling menyenangkan, selain raga yang terikat dengan batin seseorang.

Di gerbang Panti Asuhan, kami disambut oleh Ibu asuh yang baik dan terus menebar senyum manis. Kami diajak masuk dan berkenalan dengan anak lainnya. Aku malu serta sedikit ragu untuk memiliki teman baru. 

Kami ditawari untuk makan dan beristirahat di tempat yang kami mau. Ini sepertinya tempat yang baik untuk aku dan adikku. Namun, tidak seperti kenyataannya. Aku dan Dini seringkali jadi bahan ejekan oleh anak dan salah satu Ibu asuh kami. Aku tak tau mengapa itu terjadi. 

Apakah kedatanganku kemari memang cukup menganggu mereka? padahal ini yayasan sosial. Cukup aneh bagiku. Belum lama menempati tempat itu, aku merasa tidak nyaman dengan kondisi di sana. Penuh perundungan, ejekan dan ketidakadilan. Akhirnya, kami diam-diam memutuskan untuk pergi dari Panti Asuhan.

Dimulailah perjalanan kami hidup di jalan. Luntang-lantung sambil menggendong tas berisikan pakaian dan sedikit makanan untuk malam ini. Kami tidur di bawah jembatan setempat. Meskipun tak lebih baik dari kasur panti asuhan, kami berusaha untuk tidur nyenyak di sana. Paginya, aku merasakan bahwa adikku badannya sangat panas.

"Din, kenapa badan kamu panas sekali?" tanyaku.

"Tidak, Kak. Ini cuma panas biasa. Mungkin hanya kelelahan."

Mendengar ia cuma kelelahan, aku jadi tidak terlalu khawatir mengenai dirinya. Aku tinggalkan dia sendiri sembari aku mencari makanan untuk sarapan. Setelah dapat, aku menyuapkan Dini penuh kasih sayang dan berharap ia tetap sehat. Hari pun beranjak siang, aku harus mencari barang bekas dan kujual untuk terus bertahan hidup. 

Hari itu aku sudah mulai bekeraja. Meskipun tak seberapa, aku rasa pekerjaan ini penting untuk kehidupan kami kedepannya. Aku bekerja sepenuh hati demi melihat senyum Dini nanti. Di pekerjaan yang melelahkan itu, waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Di saat itu, perasaanku tidak enak. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Dini.

Bergegas aku berlari menghampiri Dini. Badannya semakin panas, dan tangannya terus gemetaran tak karuan. Semakin membuatku ketakutan. Aku mencoba ke apotek seberang untuk membeli beberapa obat di sana. 

Beberapa waktu menunggu obatnya bekerja, hasilnya mulai membaik, tubuh Dini tidak sepanas sebelumnya. Akhirnya, aku sedikit tenang untuk tidur. Setelah panasnya turun, aku sedikit merasa lega. Dengan ini, mungkin aku bisa istirahat dengan tenang untuk menyiapkan tenaga besok pagi.

Matahari menunjukkan pesonanya, suara kendaraan lalu-lalang sudah terdengar. Ini sudah menunjukkan waktu untuk kembali bekerja. Aku mencari barang bekas untuk kujual dan makan untuk hari ini. Sebelum pergi, aku menyempatkan diri untuk menyuapkan sarapan kepada Dini. 

Terpancar senyum kecil dan manis di pagi itu. Semakin melihat senyumnya, semakin membuatku terpacu untuk bekerja. Adikku selalu kujadikan motivasi untuk mencari uang. Tak peduli panas dan matahari menyengat, uang tetaplah uang. 

Aku sudah bekerja seperti ini kurang lebih 2 minggu. Hingga sore datang, aku pulang. Masih menyaksikan senyum manis Dini yang terbaring di kasur kecil. Berharap cemas agar ia tetap sehat.

"Kak, Dini ingin keliling kota bersama Kakak. Sebentar saja" inginnya sambil mengelus tanganku.

"Iya, nanti Kakak antar kamu kemanapun yang kamu mau. Tunggu, ya."

Aku terus mandi dan menyiapkan makan untuk malam ini. Kemudian, setelah kuberikan obat pada Dini, ia tidur. Di saat nyenyak itu terjadi, aku kaget merasakan tubuh Dini yang panas lagi. Sudah kuusahakan dengan obatnya, tapi sia-sia. 

Kucoba untuk berlari menggendongnya ke Rumah Sakit terdekat. Ia langsung dibawa ke UGD oleh perawat di sana. Hatiku bingung tak karuan, kepala ini rasanya ingin pecah. Tak lama kemudian, dokter menghampiriku. Sembari mengatakan,

"Adikkmu ini mengalami demam parah. Panas tubuhnya tak stabil. Ia berpotensi mengalami kelumpuhan pada tempo waktu tertentu."

"Lantas, bagaimana penyembuhannya?"

"Perawatan intensif selama 2 minggu bisa menjadi alternatif untuk kesembuhan adikkmu sendiri."

Aku terhenyak diam. Memikirkan bagaimana mencari dana untuk perawatan sebanyak itu. Akhirnya dengan gelisah hati, aku lebih memilihnya untuk membawa Dini pulang. Aku menangisi Dini sepanjang malam. Berharap ia memang benar-benar sembuh. 

Jikalau ia memang benar lumpuh, aku akan berusaha membelikannya kursi roda yang akan ia pakai untuk keliling kota bersamaku nantinya. 

Sesuai yang dikatakan dokter kemarin, Dini benar-benar lumpuh. Demam panas itu membuat syaraf dan ototnya mati karena Dini hanya terus berbaring dalam waktu yang lama. Malam itu dipenuhi rasa sedih dan air mata bagiku. Aku sudah bertekad untuk benar-benar membelikannya kursi roda. Dini bangun dan berbicara denganku,

"Kak?" tanyanya dengan wajah sendu.

"Iya, Din. Kenapa? Kamu ingin makan lagi?"

"Bukan. Apakah Kakak benar-benar akan mengajakku keliling kota dengan keadaanku seperti ini?"

"Tentu saja, Din. Kakak akan menunaikan janji yang kemarin. Tak peduli bagaimanapun keadaanmu." jawabku sambil menghapus air mata yang terus menerus jatuh.

"Baik. Terima kasih Kak. Kakak merupakan Kakak yang terbaik di dunia ini." Kemudian, ia kembali tertidur.

Pagi itu, tepat pukul 6 pagi. Aku menyuapkan Dini obat dan sarapan sebagai persiapanku untuk kerja. Aku terus memacu kaki kecilku untuk melangkah dan mencari barang bekas yang kelak akan kutukar menjadi sebuah kursi roda Dini. 

Setiap hari selama 2 minggu lebih aku bekerja. Hingga pada satu malam, saat tenagaku benar-benar habis, aku mampu membelikan sebuah kursi roda untuk Dini. Di saat itu aku menangis keras, seakan-akan tak percaya jika tekadku itu benar tercapai. Bergegas aku pulang dengan membawa kursi roda itu.

Sesampainya di sana, aku sedih bukan kepalang. Mendapati Dini sudah terbaring kaku sambil memegang foto keluarga kami. Tangannya dingin dan badannya mulai memucat. Senyum yang biasa kudapati setiap sore berubah menjadi ekspresi datar. Dini telah berpulang. Benar-benar berpulang. 

Aku diam dan menangis. Merasakan bahwa ini tidaklah nyata. Andaikan aku pulang lebih awal, tidak mungkin hasilnya seperti ini. Senyum kemarin malam menjadi senyum terakhir Dini yang ditunjukkannya padaku. 

Usahaku menjaga dan mengajak dirinya keliling kota telah hilang. Janji itu kini telah terbang menjauh. Kini aku hanya bisa menggenggam erat jari jemarinya yang kecil. Raut wajah sedih terus muncul saat itu juga. Aku merupakan seorang Kakak yang gagal. Dengan tega membiarkan adiknya yang sakit sendirian, terus mengasah ego bodohnya. Kursi roda dan janji itu menjadi sampah. Dini meninggalkanku untuk selamanya. Hutang itu terus kuingat sampai aku mati. Aku memang Kakak yang gagal!

Tepat pada hari Jum'at pagi, Dini dimakamkan secara sukarela oleh warga setempat yang iba padaku. Ia meninggal dengan kondisi janji yang tak tertunaikan. Aku menahan pilu mendalam tentang kepergiannya. Seluruh tamu mendoakan kepergiannya. Tak terkecuali aku. Akulah pria yang paling sedih hari itu. 

Kalimat permintaan terakhirnya selalu terngiang-ngiang di kepalaku hingga saat ini. Kemudian, aku terus hidup di pinggir jalan. Hidup menjadi sampah dengan penuh penyesalan. Sembari berharap agar aku cepat mati dan bisa bertemu Dini di sana. Tak ada yang mencariku.

"Maafkan Kakakmu yang gagal mewujudkan mimpi kecilmu itu, percayalah Kakakmu senantiasa menjaga asa untuk bertahan. Salam penuh cinta, Kakakmu."

LihatTutupKomentar