Mengibur Diri Melalui Media Sosial


Percayalah, tak semua orang di dunia mempunyai teman. Situasi inilah yang membuat beberapa orang akhirnya merasa kesepian. Beruntunglah jika orang itu masih memiliki keluarga yang peduli dan bisa untuk menjadi teman berbagi cerita di rumah. Namun bagaimana jika orang itu pun memiliki keluarga yang tidak begitu peduli dengannya?

Ia pun mencoba untuk menyibukkan diri dengan hobi serta hal-hal lain yang disukainya. Mencoba melupakan kenyataan bahwa ia benar-benar sendiri. 

Atau bagaimana dengan mengisolasi diri dari dunia luar? Menutup pintu kamar dan berpaling ke smartphone, menuju dunia baru yang bisa kau sebut media sosial. 

Ia begitu bahagia hidup dalam dunia media sosial. Layaknya di dunia nyata, kau bisa menemukan teman, mendapatkan informasi baru, mencari hiburan. Dan ia hanya perlu berdiam diri di satu tempat. 

“Kau tak perlu lagi keluar dan menghabiskan waktumu dengan manusia-manusia yang sama sekali tidak peduli denganmu. Diamlah di sini dan nikmati kebahagiaanmu.” 

Begitulah kiranya kata-kata yang terbisik ke telinganya. Meyakinkan dirinya untuk tidak perlu lagi menghadapi dunia luar yang jahat adanya.

Ia terkadang mampu untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk menatap layar smartphone. Melakukan percakapan lewat teman di media sosialnya yang satu frekuensi. Saling bergantian bercerita tentang hal-hal yang disukai masing-masing.

Ia juga senang mencari hiburan yang ada di sana. Menonton video-video yang lucu dan yang lain-lain. Melihat hal-hal baru yang terjadi di luar sana. Seperti dunia yang berada di genggamannya.

Ia juga tidak absen untuk setiap keributan yang terjadi. Komentar-komentar bernada kebencian akan ia tuliskan, mencoba untuk memancing kemarahan pengguna media sosial yang lain. Dan ya, itu juga adalah hal yang menyenangkan, baginya.

Mereka yang muak pun akan berkata “Udah diemin aja, biasa tuh di real life nggak punya temen, makanya kaya gitu.” 

Komentar itu memang cukup menyakitkan, namun ia tidak begitu peduli. Ia bahagia dengan apa pun yang ia lakukan di media sosial.

Sebenarnya di sisi lain ia ingin mempunyai kehidupan yang indah seperti orang lain rasakan dan juga seperti yang ia bayangkan. Ia ingin berhenti, berusaha untuk memulai kehidupan normalnya.

Terkadang ia pun menasihati dirinya sendiri “Seharusnya kau pergi ke dunia luar dan cobalah mencari teman, kau akan lebih memahami apa itu arti kebahagiaan dibanding ini.”

Namun lagi-lagi pikiran tentang dunia luar yang begitu jahat itu pun datang. Dan lagi, ia mengurungkan niatnya untuk berhenti dari kehidupannya di media sosial.

LihatTutupKomentar