Wawa, Kutu Buku ini Mencintaimu


 SMA, adalah masa yang sering disebut masa manisnya kehidupan seseorang. Masa yang diisi dengan senda-gurau dan pengenalan cinta pertama yang sesungguhnya. Semua itu sudah aku alami, kecuali masa pengenalan cinta yang tidak begitu baik. Perjalananku justru rapuh dan tak beraturan.

Namaku Angga, lebih tepatnya Muhammad Dwi Angga Pratama. Kadangkala, teman-temanku memanggilku Angga atau Dwi. Namun, lebih sering dipanggil Dwi. Aku murid SMA kelas 1.

Aku anak tunggal dari pasangan Bapak Maryono dan Ibu Sri. Namun, saat ini aku hanya tinggal dengan bapak. Ibu meninggal dunia sejak aku kelas 3 SMP karena sakit. Kini, aku hanya memiliki satu orang tua saja, yaitu bapak yang paling aku sayangi. 

2017, tahun pertamaku masuk ke jenjang SMA. Kehilangan ibu, membuatku menjadi orang yang pendiam, malas bergaul, dan lebih suka membaca buku. Hal ini lah yang membuatku menjadi pribadi yang tak mudah percaya diri dan cenderung tertutup. 

Waktu sedang masa orientasi siswa, aku diminta untuk memperkenalkan diri.


"Hei! Yang diujung, maju dan perkenalkan dirimu." ujar Ketua OSIS padaku.


Aku bangkit dan melaksanakan perkenalan itu. Saat sudah berada di depan kelas, lututku bergetar dan keringat mulai membasahi wajah dan pakaianku. Wajahku memerah dan sumringah, soalnya aku sudah lama tidak merasakan hal ini. 

Aku memperkenalkan diri dengan gelagapan, kata-kata yang keluar dari mulutku tidak beraturan. Karena hal itu, aku ditertawakan oleh mereka semua. Aku merasa malu, benar-benar malu. Hingga jam istirahat datang, di saat yang lain berhamburan keluar mencoba bersosialisasi dengan yang lain, aku hanya duduk diam membaca buku yang kubawa.

Di saat aku sibuk membaca buku, tiba-tiba kakak kelasku datang dan menghampiri diriku. Dia merupakan idola remaja cowok di sekolahku. Cantik, proporsi bentuk fisik yang bagus dan memiliki senyum yang mempesona. 


"Kutu buku! Baca buku mulu, gak bosan?" ujarnya.

"Eh! astaghfirullah. Gak, kok."

"Ayo, jajan. Aku yang bayarin. Serius." ajaknya sambil menarik rambutku.

"Iya-iya, tapi jangan tarik rambutku. Sakit."


Akhirnya aku meng-iyakan ajakan si cewe itu. Kami berjalan menuju kantin sekolah, kantin yang besar dan dipenuhi murid-murid yang terdiri dari berbagai macam kelas. Cewe tersebut mengajakku makan di kantin Bu Teteng. Kami memesan 2 porsi mie instan dan es teh. 

Aku tidak paham kenapa wanita ini tiba-tiba mengajakku makan bersama, padahal di luar sana banyak pria yang mengidamkan wanita itu. Sungguh aneh. Di sela-sela makan tersebut, datang seorang pria dengan ekspresi yang penuh sarat emosi. 


"Woi! Ku*tu buku samp*h!" 


Pria itu langsung menarik kerah baju putihku, menatapku dengan tajam. Aku tak tahu kenapa ini terjadi. Pria itu langsung menumpahkan mie instan pesananku tadi. Mie itu mengenai bajuku, akibat itu bajuku menjadi kotor dan kusam. Murid lain hanya diam dan tak ada yang bergumam. 

Wanita itu langsung datang dan melerai kami berdua, begitu juga dengan yang lain. Pertemuan pertamaku dengan wanita tersebut menghasilkan kesan yang buruk. Pria tadi memberikan sebuah ancaman, dirinya menyebutkan bahwa aku harus menjauhi wanita cantik itu. Padahal, aku tak pernah mencoba bersosialisasi dengan yang lain, apalagi mendekati seorang wanita. Cuih, sebuah ancaman tanpa dasar.

Kemudian, aku kembali ke kelas dengan kondisi baju yang kotor. Wanita itu mencoba mengejar ku, tetapi aku tak menghiraukannya. Hingga waktu istirahat selesai, aku kembali ke kelas dan belajar kembali. Tepat di depanku, ada wanita yang melemparkan kertas padaku. 

Di kertas itu terdapat informasi. Informasi tersebut menjelaskan bahwa pria itu merupakan pacar wanita tadi. Di situ juga dijelaskan bahwa wanita itu bernama Rachel Amanda. Baru kali itu aku mengetahui nama wanita secantik itu.

Bel sekolah berbunyi, menandakan waktunya pulang. Aku mencoba mengucapkan terima kasih kepada wanita yang duduk di depanku. 


"Hei! terima kasih buat yang tadi."


Wanita tadi hanya membalas teriakanku dengan senyuman. Mungkin menandakan "iya" tentang jawabannya.

Setelah itu, aku berjalan ke parkiran sekolah. Mencoba menghidupkan motor Astrea grand 90'an milik bapakku. Saat aku memasukkan kunci, Rachel datang dan tiba-tiba meminta maaf padaku atas kejadian di kantin tadi.


"Kutu buku, maafkan soal yang tadi. Aku yakin Doni hanya terbawa emosi."

"Gak masalah. Namanya juga orang emosi, gak bisa kita tahan. Sudahlah ya, aku mau pulang." ucapku.

"T-t-tapi....."


Aku langsung pergi meninggalkan Rachel. Dari percakapan singkat tadi, aku mengetahui bahwa nama pacar Rachel itu Doni. 

Keesokannya seperti biasa, aku ke sekolah menggunakan Astrea grand 90'an milik bapak. Pagi itu cuaca cerah, bunga-bunga pun bermekaran. Di perjalanan, terdengar teriakan dari belakang. Ternyata itu teriakan Rachel. Sambil berkendara, dia mengajakku berbicara,


"Eh, kutu buku! Kita belum kenalan dari kemarin, tau!"

"Nanti, di sekolah aja. Lagi di jalan gak boleh bicara."

"Hah?! Eh, tunggu dulu!"


Aku kembali meninggalkan Rachel untuk kedua kalinya. Sesampainya di sekolah, saat aku memarkirkan Astrea bapak, Doni datang dan menghampiri diriku lagi.


"Woi! Kutu buku samp*h! Gak denger apa yang gua kasih tau kemarin?!" ujarnya sambil mengepalkan tangannya.

"I-i-ya...." tanganku gemetaran.


Hari itu bukan hari yang baik untukku. Lagi-lagi hampir dipuk*l hanya karena Rachel. Aku tak pernah mencoba mendekati Rachel, hanya dia saja yang terus menerus mengejar ku.

Aku segera masuk ke dalam kelas. Aku bertemu dengan wanita yang duduk di depanku. 


"Eh, kita sekelas, kan?" tanyaku.

"Iya, masa lupa, sih? Kamu, kan duduk di kursi belakang. Mirip patung. Diam dan hanya mengisi hari-harinya dengan buku." jawabnya dengan tertawa.


Aku hanya tersipu malu dan wajahku kembali memerah. Aku berpikir, akhirnya aku bisa bertemu dengan teman yang baik di sini.


"Namamu siapa? Soalnya kemarin mau nanya, cuman udah mepet sama waktu pulang." tanyaku.

"Oh, namaku Salwa. Biasanya lebih sering dipanggil Wawa, sih." 


Akhirnya aku sudah mengetahui nama wanita yang sekelas denganku itu. Kemudian, aku ke kelas bersama Wawa. Jalan kami beriringan, kami sambil bersenda gurau. 

Pelajaran dimulai seperti biasa. Hari itu terdapat 4 mata pelajaran. Tepat pukul 9.45, waktu istirahat datang. Wawa mengajakku ke kantin untuk makan bersama, tapi aku menolak ajakannya. Aku lebih memilih membaca buku daripada bertemu dengan Doni lagi di kantin.

Dia menghampiriku dan mengambil buku yang aku baca. Dia berlari, aku mengejarnya. Alasan yang bagus, dia memaksaku mengejarnya hingga ke kantin Bu Teteng. Dia menawarkan aku makanan, tetapi aku menolaknya lagi.


"Ayolah, makan lagi. Emang kalo baca buku bisa kenyang? Gak, kan? Udah ini makan."

"Gak, Wawa aja yang makan dulu sana."

"Apa mau aku yang suapin?" Wawa sambil mengarahkan sendok ke mulutku.

"Ah! Emang gila si Wawa." aku menolak suapannya.


Waktu istirahat selesai, untungnya aku tak bertemu dengan si Rachel. Bisa-bisa nanti aku malah dipuk*li Doni lagi. Saat berada di dalam kelas, Wawa mengajakku untuk pulang bersama. Kebetulan ayah Wawa tak bisa menjemputnya karena sibuk, jadi aku bermurah hati untuk menerimanya.


"Treng..." bel sekolah berbunyi.


Segera aku mengemasi buku dan menuju ke parkiran. Wawa berada di samping diriku. Kami bersenda gurau sepanjang sekolah. Wawa memiliki hidung yang runcing, senyum manis dan gigi gingsul satu. Ketiga hal itu yang membuat aku nyaman bersama dirinya.

Kumasukkan kunci ke motor bapak. saat menghidupkan motor, Rachel menghampiriku dan mengajakku untuk pulang dan makan bareng di restoran milik keluarganya. Sudah jelas aku menolak ajakannya, karena masih ada tanggung jawab untuk mengantar Wawa pulang. Rachel terus memaksaku untuk pulang bersama, tapi aku terus menolaknya. Wawa pun berbicara jika dia bakal pulang dengan teman lainnya.


"Dwi, kamu pulang aja sama Rachel. Gak apa-apa, kok. Lagian temenku juga kosong." sambil tersenyum.

"Eh, t-t-tapi..."


Wawa pun langsung meninggalkanku, ekspresinya datar dan tak kulihat senyumnya seperti pagi tadi. Dengan berat hati, aku meninggalkan Wawa. Di perjalanan bersama Rachel, aku sudah memiliki firasat bahwa Doni pasti akan menemui diriku lagi. 

Namun saat itu, Rachel menjelaskan bahwa Doni itu bukanlah pacarnya. Dia tidak suka perangai jelek Doni. Doni menurutnya tak lebih seperti anak kecil yang jika berkelahi mengandalkan temennya.

Akhirnya, kami sampai di restoran. Rachel memesankan makanan yang paling enak di sana.


"Mbak dan masnya mau pesan apa?" tanya pelayan restoran.

"Chicken katsu takoyaki-nya 2 porsi, mbak".

Karena kebanyakan, aku menyanggah ucapan Rachel, 

"Gak, mbak. Satu porsi aja, saya sudah makan tadi."


Rachel kaget, dia memarahi diriku karena menolak pesanan yang dibuat. Aku masih kepikiran tentang Wawa, tentang rencana kami pulang bareng. Aku tak membenci Rachel, hanya saja dia tiba di waktu yang tidak tepat. Pesanan tiba, sendok demi sendok masuk ke mulut Rachel.

Di parkiran, terdengar suara motor yang berisik. Suara motor ini, sepertinya suara yang tidak asing. Ya! benar saja, suara motor itu berasal dari motor Doni. Doni masuk langsung mengayunkan puk*lan ke arah wajahku. Seketika aku kaget dan tumbang. Akibat puk*lan itu, pelipis kananku berdarah dan bibirku pecah.


"Woi! B*go! Kan udah dibilangin, gak usah deketin Rachel. Kayaknya emang cari masalah sama gua."

Rachel datang dan melayangkan tamparan ke Doni.


"Kamu kenapa sih, Don? Kamu itu bukan pacarku, kamu gak berhak ngelarang aku. Pergi sana! Aku muak melihat sifat egoismu." 

"Maaf. Aku salah, dan ini terakhir kali aku bersama Rachel. Nikmati kebersamaanmu bersama Rachel, karena wanita sepertinya sulit dicari." ucapku.

Rachel membersihkan dar*h yang berada di wajahku, tetapi aku menolak.


"Bagaimana? Sudah aku katakan, selama aku masih bersamamu, semuanya akan berantakan. Aku sudah mengacaukan segalanya. Dan terakhir ini, jangan mencoba mendekati lagi."


Aku kemudian pergi dengan kondisi wajah yang berdarah tadi. Meninggalkan Rachel di restoran itu. Menaiki motor bapak dan kembali memikirkan Wawa. Jika aku lebih memilih Wawa, kejadian ini tidak bakal terjadi.

Sesampainya di rumah, bapak kaget melihat kondisiku. Bapak menanyakan penyebab luka itu. Aku berbohong kepada bapak, aku mengatakan bahwa itu akibat jatuh di sekolah tadi. Mungkin karena aku terlihat jujur, bapak meng-iyakan jawabanku tadi.

Keesokan paginya, aku tak bisa bangun. Pukulan Doni itu membuat kepalaku pusing dan berat. Tulang tubuh ku seperti tidak mampu menunjang berat badanku. Akhirnya, aku tak bisa pergi berangkat sekolah. Aku kira rasa pusing itu hanya sehari, tetapi jauh lebih parah. Aku tidak masuk sekolah hingga 3 hari.

Pada hari ke-2, Wawa menjengukku. Aku kaget bukan kepalang. Membawakan buah tangan. Jujur saja, aku belum pernah menerima hadiah seperti itu dari orang lain. Wawa yang pertama memberiku itu. Kami masih menyempatkan diri bersenda gurau.


"Dwi, pelipismu aku p*kul lagi, ya?" tanya Wawa.

"Eh, gila ini orang. Begini aja pusing, apalagi ditonj*k." 


Wawa tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Karena tawa Wawa sangat lepas, ia tidak sengaja menumpahkan air dan menjatuhkan gelas. Saat memunguti pecahan gelas, tak sengaja tangan kami bersautan dan mata kami saling menatap. 

Pikiran melayang, menyaksikan mata Wawa yang berbinar cerah. Senyumnya mengajakku masuk ke ranah mimpi terdalam. Tangannya yang lembut bisa kurasakan, apakah aku sedang jatuh cinta?

Wawa diam sejenak,


"Maaf, aku tak sengaja." ucapku


Wawa diam dan bergegas mengemasi barang-barangnya dan pulang. Aku menjadi canggung dan malu. Apakah Wawa merasakan hal yang sama padaku.

Keesokannya aku mulai sekolah, kebetulan aku bertemu Wawa di perempatan jalan, dan tanpa berkompromi, Wawa langsung menaiki motor dan memelukku erat. Aku kaget, karena hal itu aku merasa yakin jika Wawa merasakan apa yang kurasakan.


"Eh, Wa?"

"Udah, ayo jalan. Gak usah ngomong terus."


Aku menuruti perintah Wawa. Pagi itu menjadi pagi yang baik. Singkat cerita, kami sampai dan belajar seperti biasa. Hingga istirahat datang, Wawa mengajakku ke kantin Bu Teteng. Untuk kali ini aku menerima ajakannya dengan senang karena aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Di sela-sela makan kami, Rachel datang untuk kesekian kalinya,


"Dwi, maafkan yang kemarin. Serius, aku benar-benar minta maaf."


Aku tidak menjawab permohonan maaf itu, justru aku kembali ke kelas sambil memegang tangan Wawa. Mungkin karena melihat aku memegang tangan Wawa, Rachel terdiam dan berpaling dariku. Wawa kebingungan dan bertanya,


"Dwi, memangnya kemarin ada apa?"

"Udahlah, Wa. Gak usah dibahas dulu."

Setelah hal itu, aku menceritakan kejadian yang kemarin. Wawa diam dan memarahiku,

"Katanya luka kemarin habis jatuh? Berarti kamu bohong, kan?!" 


Wawa langsung mencubitku keras, saking kerasnya hingga membuat pinggangku memerah. Hampir 1 bulan lebih aku selalu bersama Wawa. Aku merasakan hawa cinta pertama yang sesungguhnya. 

Perangai yang manis, baik dan ceria itu membuat hidupku sedikit berwarna. Setelah kepergian Ibu yang suram, kini Wawa hadir mewarnai itu semua. Rachel kini tak pernah mencoba mendekati diriku lagi. 

Suatu hari, saat kami makan di kantin. Dia mengajakku untuk bertukar buku, kebetulan Wawa baru saja membeli buku.


"Dwi, tukaran buku, ya?"

"Kok?"

"Aku udah selesai baca buku ini, jadi pengen baca buku kamu. Mau, ya?"

"Iya-iya, tapi balikin. Awas kamu."


Akhirnya, kami sepakat bertukar buku.

Namun, kebersamaan aku dan Wawa tak berlangsung lama. Aku mendengar kabar bahwa Wawa akan pindah ke luar kota. Wawa pindah ke luar kota karena urusan bisnis ayahnya. Karena hal itu, aku segera menghampiri Wawa di rumahnya. Berkendara dengan kencang, hingga aku sampai di rumahnya. 


"Assalamualaikum, Wawa?" ucapku.

"Waalaikumsalam, ada apa mas?" jawab pembantu rumah Wawa.

"Anu, Wawanya ada, Bu?" tanyaku dengan gelagapan.

"Wawa pergi sama Ayahnya mas. Mau ngurus surat kepindahannya." 


Berarti apa yang diberitakan sebelumnya itu benar adanya. Aku pulang dengan tangan kosong dan penuh kehampaan. Berharap cemas bertemu dengan Wawa secepatnya. Untuk menanyakan kepadanya tentang masalah ini.

Pagi itu, aku bergegas ke sekolah. Cium tangan bapak, terus mencium keningnya. Ku kebut Astrea bapak ke sekolah. Sesampainya di sana, aku segera ke kelas dan mencari Wawa. Beruntunglah, Wawa masih di sana dan membaca buku yang dipinjam kemarin.


"Wa, nanti kita ke kantin, ya?" ajakku.

"Tumben? kesurupan apa sih?" Wawa sambil tertawa

"Ini serius."

"Iya-iya, anak tukang bakso pembaca buku."

Istirahat datang, aku langsung mengajak Wawa ke kantin Bu Teteng. Aku menanyakan sesuatu padanya,

"Wa, kamu beneran bakal pindah?"

"Iya, Dwi. Soalnya ayahku dapat surat pindah kerja. Ya begitulah, kalo jadi anak pengusaha. Gak bisa menetap lama."

"Berangkatnya kapan?" tanyaku.

"Besok. Jadi hari ini terakhir aku sekolah."


Mendengar jawaban itu, aku bersedih. Sangat sedih, tetapi aku menyembunyikan sedih itu. 

Bel masuk kelas berbunyi, kami belajar seperti biasa. Dalam proses belajar itu, pikiran ku hanya terus menerus ke arah Wawa. Sepertinya otakku juga enggan berpisah dengan Wawa. 

Singkat cerita, waktu pulang tiba. Aku mengajak Wawa pulang bersamaku. Aku ingin menghabiskan waktu ini bersama Wawa.

Kami berdua keliling kota sambil tertawa seru. Aku sengaja melakukan ini agar kesan terakhir ku terhadap Wawa berakhir manis. Cuaca mulai mendung, suara gemuruh pun mulai terdengar. Bak suara burung, suara gemuruh di langit saling bersahutan. Hal ini menandakan hujan lebat akan turun.

Perkiraan ku benar, hujan deras membasahi kami berdua. Hujan deras datang, Wawa memelukku erat, jauh lebih erat dari yang pertama kali. Di perjalanan itu, aku menangis. Hanya saja Tuhan berbaik hati padaku, Dia mengirimkan hujan agar air mata sedihku mampu tersamarkan dan tak diketahui Wawa. 

Waktu sore tiba, kami berhenti di sebuah halte. Untuk berteduh sejenak. Wawa berbicara padaku, wajahnya amat serius.


"Dwi, terima kasih, ya buat hari ini. Sebelumnya, aku gak pernah sebahagia ini dengan orang lain. Bersamamu aku senang. Meskipun terkesan sederhana, itulah yang membuatku merasakan makna bahagia sebenarnya."

"Iya, Wa. Terima kasih juga udah mau jadi teman pertamaku di sekolah. Kamu baik, tapi suka jahil." jawabku.

"Haha, di saat seserius ini kamu masih bisa membahas itu? Dasar kutu buku!"


Tiba-tiba Wawa memelukku dari depan. Pelukannya hangat, membaur dengan derasnya hujan. Membuatku menjadi luluh. Air matanya jatuh menetes mengenai pundakku. Aku sudah tahu, sejak hujan pertama tadi jika Wawa menangis. Aku hanya diam. 

Air mataku mengalir membasahi pipi. Tak kusangka, orang yang pertama aku kenal di sekolah menjadi cinta pertamaku. Hujan deras membuatku semakin mendalami rasa pelukan yang Wawa berikan. Sungguh ironis, aku tak bisa merasakan hal ini lebih lama.

Waktu sudah sore, aku segera mengantar Wawa pulang. Bertemu dengan dirinya untuk terakhir kalinya. Jiwaku merasa tak ikhlas dengan kepergian Wawa, meskipun itulah faktanya. Dia memberikan senyuman manis itu padaku. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung pulang. Lagian agar Wawa lebih siap untuk perjalanan pindah nanti malam.

Keesokan harinya, tepat pada hari Minggu. Aku mendengar suara berita di Televisi bahwa ada kecelakaan tunggal di Jalan Tol. Aku menyaksikan berita tersebut dengan serius. Betapa kagetnya aku, ternyata mobil yang kecelakaan itu merupakan mobil milik Wawa. Tubuhku kaku, kakiku gemetaran. Aku kira itu mimpi, tapi nyatanya itu benar-benar terjadi. Aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan pada malam itu, aku belum sempat mengungkapkan bahwa aku mencintainya.

Senyum yang dia berikan semalam itu ialah senyum terakhir yang aku lihat. Tak kusangka dia meninggalkanku secepat dan tragis seperti ini. Dia berjanji akan menghampiriku saat ia memiliki waktu. Namun, tidak! Dia bahkan takkan pernah menghampiriku lagi, selamanya! Hari itu juga aku hanya larut dalam kesedihan. Mengingat masa berdua kami yang penuh senda gurau dan tawa.

Senin pagi, seluruh murid di sekolah dikumpulkan di lapangan. Pengumuman mengenai kematian Wawa pun di sampaikan oleh kepala sekolah. Semua murid kaget. Aku yang mendengar berita itu sedih bukan kepalang. Aku tak bisa menahan tangis itu. Rachel menghampiriku dan memberikan ku semangat. Itu semua sia-sia, aku hanya tak rela kehilangan Wawa.

Hari itu, aku hanya diam di kelas. Sama seperti yang aku lakukan saat pertama bertemu Wawa. Kursi depanku kini kosong, tak bakal kudapati senyum semanis Wawa lagi. 

Sesampainya di rumah, aku berkemas. Duduk di kamar ditemani teh, aku membaca buku yang Wawa tukar kemarin. Saat aku membuka tiap helai halaman, luka yang timbul semakin terasa, membuatku kembali menangis. Hingga pada akhir buku, aku menemukan sebuah surat. Surat itu berisi,

"Untuk kutu buku yang bernama Dwi. Ini surat yang aku tulis untukmu. Maaf ya, rencana aku buat pindah ke luar kota gak ku beritahu sebelumnya sama kamu. Soalnya aku takut kamu bakal sedih. Sejak pertama kali aku liat kamu, kamu itu agak sedikit bego sama lucu. Di sekolah cuma baca buku, sama diam. Karena sifat kamu itulah yang membuat kamu menarik di mataku. Terima kasih udah mau nemenin aku di sini, karena kesederhanaan kamu aku bisa belajar memaknai arti kebahagiaan sesungguhnya. Udah, gak mau kebanyakan nulis, dadah. Jangan lupa gosok gigi, ya! Salam Wawa."

Aku menangis lagi, menangis untuk kesekian kalinya. Aku benar-benar kehilangan orang yang aku sayangi. Semenjak itu, aku menutup diri dari lingkungan luar untuk beberapa saat. Itu semua demi ketenangan batinku. Senyum terakhir Ibu dan Wawa selalu membekas di hatiku.


Editor : Mauli Dezta Lentama

LihatTutupKomentar