Sejarah mengenai "Yang Pedas Karetnya Dua ya"

  Hallo sahabat Mas Dezta, kembali lagi dengan saya Mauli Dezta Lentama admin yang paling keche. Dikesempatan kali ini Mimin akan membahas tentang Sejarah "Yang Pedas Karetnya dua ya". Pasti kalian sering mendengar kata-kata itu dikala membeli Gado-gado, Pecal, Ketoprak ataupun makanan yang dibungkus lainnya. Tapi kalian tau atau tidak bagaimana sejarahnya? Kalau belum tau, Cuss kita bahas.

Dahulu, sekitar tahun 60-an, para penjual gado-gado, ketoprak, pecal ataupun rujak menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Mereka juga menggunakan lidi untuk mengikat daun pisang tersebut. Lidi tersebut ditusukkan dikedua sisi daun pisang itu. Lama kelamaan kebiasaan ini berubah. Sekitar tahun 80-an, penggunaan daun pisang sebagai pembungkus sudah jarang digunakan lagi. Mereka lebih memilih membungkus makanan menggunakan kertas minyak. Penggunaan lidi juga diganti menggunakan karet. Karet itu digunakan untuk mengikat kertas minyak tersebut.

Seiring berjalannya waktu, banyak pembeli yang menginginkan perbedaan rasa pedas. Lalu para penjual pun membuat tanda untuk membedakan antara yang Pedas dan biasa-biasa saja. Caranya yaitu dengan menuliskan kata "pedas" pada pembungkus makanan itu. Cara ini lumayan populer. Namun mereka kemudian berfikir bahwa cara ini tidak begitu praktis. Karena mereka harus bolak-balik menggunakan pulpen. Lama-kelamaan cara inipun ditinggalkan dan menggunakan cara terbaru, yaitu dengan cara mengikat makanan dengan dua karet. Cara ini cukup populer di Indonesia bahkan sampai tahun 2018.

Namun, semakin lama cara ini dianggap tidak efisien karena harga karet yang semakin mahal. Lalu mereka menggunakan cara yang lebih efisien, yakni dengan sedikit merobek pembungkus makanan tersebut. Fungsinya masih sama, yaitu untuk membedakan mana yang pedas dan yang biasa.

Bagaimana? Sudah tau kan? Kalau begitu, sampai jumpa di artikel selanjutnya! Terima kasih dan Salam.

LihatTutupKomentar