Apa yang Menyebabkan Rusia Menyerang Ukraina?

Sumber: Merdeka.com

 Halo sahabat Mas Dezta. Perang Rusia dan Ukraina telah meletus, ribuan korban telah melayang, gedung-gedung terbakar, dan serangan udara terus datang. Tapi sebenarnya kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa Rusia melakukan penyerangan terhadap Ukraina? Dan benarkah perang dunia ketiga sudah didepan mata?

Untuk melihat isu ini, kita harus kembali kebelakang. Yang pastinya para ahli sudah berpendapat kalau konflik ini sebenarnya berpusat di satu orang. Ya, Vladimir Putin, sang presiden Rusia. Tentang masa lalu dan juga warisannya. Berikut kisahnya!

Singkat cerita, tahun lalu Vladimir Putin menerbitkan sebuah tulisan yang berisi menurutnya Rusia dan Ukraina berasal dari Kebudayaan yang sama. Ibaratnya seperti saudara sebangsa. 

Kedua negara ini juga pernah bergabung dalam Uni Soviet. Tetapi setelah perang dunia kedua, Uni Soviet ibarat raksasa yang membuat negara-negara barat bersatu dan membuat perkumpulan militer raksasa yang diberi nama North Atlantic Treaty Organization atau disingkat NATO.

Kedua perkumpulan ini selama puluhan tahun melakukan perang dingin hingga pada akhirnya Uni Soviet pecah pada tahun 1991 dan Vladimir Putin melihat perpecahan ini sebagai bencana besar. Mimpi buruknya seakan terwujud ketika melihat negara-negara terdekat Rusia ikut bergabung dengan NATO. 

Bagaimana dengan Ukraina? Sudah banyak penduduk di negara tersebut yang perlahan-lahan ingin memihak negara barat. Hal ini terlihat ketika masa pemerintahan presiden Ukraina Viktor Yanukovych. Ketika Ukraina menjauh dari negara barat dan justru dekat dengan Vladimir Putin, rakyat Ukraina terlihat tidak senang dan terlihat sangat kesal. Hingga akhirnya rakyat Ukraina melakukan demo besar dan melengserkan Presiden Viktor Yanukovych. Ini kemudian yang membuat Rusia mencaplok sebagian area Ukraina agar Rusia tetap bisa mempunyai pengaruh di Ukraina.

5 tahun kemudian, seseorang berlatar belakang pelawak berhasil mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Presiden Ukraina. Ya, benar. Ia bernama Volodymyr Zelenskyy. Saat itu angin pun berbalik, Ukraina pun kembali dekat dengan NATO.

Yang perlu kita ketahui, NATO mempunyai sebuah peraturan yang berbunyi "Satu Anggota Diserang, Seluruh Anggota Lainnya Ikut Perang". Melihat tetangga terdekatnya bermain dengan geng lawan, Vladimir Putin menjadi tidak nyaman. Hingga pada November 2021 lalu, Rusia menggerakkan 100.000+ pasukannya ke perbatasan Rusia-Ukraina dan diiringi beberapa permintaan dari Presiden Rusia. Salah satunya "NATO harus menarik pasukan dan senjata dari negara-negara terdekat Rusia" dan "NATO tidak boleh menambah anggota baru".

Diskusi pun berjalan alot. Para petinggi dunia pun memberikan peringatan, jika Rusia akan menyerang Ukraina dalam hitungan hari. Akhirnya prediksi itu menjadi kenyataan. Pada 21 Februari 2022, Putin mengakui 2 daerah Ukraina sebagai negara merdeka dan menggerakkan tentaranya ke daerah tersebut.

Serangan pertama pun meledak, presiden Ukraina langsung memberlakukan darurat militer. Warganya dihimbau berlindung di rumah atau bungker peninggalan perang. Tetapi kondisi terus saja menjepit. Sang Presiden pun menyerukan warganya untuk berjuang membela negaranya. Pertarungan pun berjalan sengit, hingga semua mata dunia  tertuju pada mereka. 

Lalu apakah invasi Rusia-Ukraina akan menjadi perang dunia ketiga dan Indonesia juga terbawa-bawa? Jawabannya belum tentu. Saat artikel ini ditulis, Rusia dan Ukraina sama-sama masih sendiri. Tetapi negara-negara lain mulai menunjukkan pihak mana yang akan didukung. Tapi sementara Indonesia tidak. Karena negara kita mengecam perang. Sesuai dengan postingan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di Twitter yang berbunyi "Stop Perang, Perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia."

Tetapi kita juga tidak akan lepas dari dampak isu ini. Nilai dolar, harga bahan bakar, hingga harga roti, mie dan sereal mungkin akan ikut naik.

Dan menurut kalian, apa kartu yang akan dimainkan oleh Rusia, Ukraina dan NATO saat ini? Sekian, terima kasih dan Salam.

LihatTutupKomentar